Latar Belakang

    Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) adalah konferensi nasional tahunan di bidang pengendalian tembakau, pertama kali diadakan pada tahun 2014 di Jakarta. Guna menjangkau publik yang lebih luas ICTOH juga telah diadakan di Jogjakarta dan Surabaya. Tahun ini adalah pelaksanaan ICTOH ke-6 yang akan diadakan secara virtual dengan target pembicara dan peserta yang lebih banyak dan beragam. Sebagai satu-satunya forum ilmiah di bidang pengendalian tembakau berskala nasional, ICTOH terinspirasi forum sejenis berskala international yaitu WCTOH (World Conference on Tobacco or Health). Di Indonesia ICTOH diselenggarakan oleh Tobacco Control Support Center Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI), sebuah organisasi yang bergerak di bidang pengendalian tembakau di Indonesia. Seperti kegiatan-kegiatan sebelumnya, kali inipun pelaksanaannya didukung oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (The Union), serta World Health Organization (WHO).

    Tema 6th ICTOH 2020 “Pengendalian Tembakau untuk Sumber Daya Manusia Unggul dan Berdaya Saing” sesuai dengan tema RPJMN 2020-2024. Arah kebijakan RPJMN 2020-2024 menempatkan penurunan merokok penduduk usia 10-18 tahun dari 9,1% menjadi 8,7% menjadi salah satu indikator sasaran pokok di bidang kesehatan. Mengingat bahwa meningkatnya prevalensi perokok remaja di Indonesia mengindikasikan pemerintah telah gagal mencapai target RPJMN 2014-2019 yaitu penurunan prevalensi perokok remaja sebesar 5,4%. Pada RPJMN 2020-2024 terdapat tiga target kegiatan prioritas dalam pengendalian tembakau: peningkatan jumlah kabupaten/ kota yang menerapkan kawasan tanpa rokok, meningkatkan kab/ kota dengan ≥40% FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) layanan upaya berhenti merokok, serta meningkatkan pengawasan jumlah label dan iklan produk tembakau.

    Seperti kita ketahui, epidemi konsumsi rokok di Indonesia telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (2018), menyatakan lebih dari sepertiga (33.8%) penduduk Indonesia adalah perokok. Remaja usia 10-18 tahun mengalami peningkatan prevalensi perokok sebesar 1,9%, dari 7,1% (2013) menjadi 9,1% (2018) dalam jangka waktu hanya 5 tahun saja. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menempatkan Indonesia sebagai pasar rokok tertinggi ketiga di dunia setelah China dan India. Indonesia adalah ubli terakhir indutri rokok menjalankan bisnisnya akibat lemahnya kebijakan perlindungan masyarakat dari dampak buruk rokok.

    Rokok merupakan faktor risiko utama Penyakit Tidak Menular (PTM). Kanker, penyakit jantung dan pembulu darah, serta penyakit paru obstruktif kronis sangat berkaitan dengan perilaku merokok (Atlas Tembakau, 2020). Kebiasaan merokok di Indonesia telah membunuh setidaknya 235.000 jiwa setiap tahunnya. Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Kesehatan menyatakan kerugian akibat orang produktif yang menjadi tidak produktif karena sakit akibat rokok mencapai sekitar 4.180,27 triliun, sementara kerugian ekonomi akibat tembakau mencapai 375 triliun atau seperlima dari total APBN Indonesia. Kemudian penyakit katastropik yang salah satu faktor risiko utamanya adalah merokok membebani lebih dari 20% seluruh pembiayaan BPJS Kesehatan.

    Belum tuntas masalah rokok konvensional, kini muncul produk baru yaitu rokok elektronik dengan target sasaran yang sama, anak dan remaja. Produk ini semakin ublic dalam waktu singat, terbukti dengan terjadinya peningkatan tajam prevalensi perokok elektronik usia 10-18 tahun sebesar 1,2% (Sirkesnas, 2016) menjadi 10,9% (Riskesdas, 2018). Data perokok elektronik juga mencapai 11,5% pada remaja usia 13-15 tahun (GYTS, 2019) . Hal ini tentu mengancam bonus demografi yang seharusnya sudah mulai terjadi dan dinikmati bangsa ini.