Latar Belakang

    Epidemi konsumsi rokok di Indonesia telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Lebih dari sepertiga (36.3%) penduduk Indonesia dikategorikan sebagai perokok saat ini. Diantara remaja usia 13-15 tahun, terdapat 20% perokok dimana 41% diantaranya adalah remaja laki-laki dan 3,5% remaja perempuan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai pasar rokok tertinggi ketiga di dunia setelah China dan India. Prevalensi perokok Laki-laki dewasa di Indonesia bahkan yang paling tinggi (68,8%) di dunia.

    Rokok merupakan faktor risiko utama Penyakit Tidak Menular (PTM). Kanker, penyakit jantung dan pembulu darah, serta penyakit paru obstruktif kronis sangat berkaitan dengan perilaku merokok. Kebiasaan merokok di Indonesia telah membunuh setidaknya 235.000 jiwa setiap tahunnya. Selain itu, biaya pengobatan yang dibutuhkan oleh penyakit terkait rokok sangat besar. Data BPJS Kesehatan menyebutkan bahwa tahun 2014, klaim ke BPJS untuk 4,8 juta kasus penyakit jantung mencapai Rp 8,189 triliun. Data tahun 2015 hingga Triwulan III terdapat 3,9 juta kasus dengan total Rp klaim 5,462 triliun. Sementara itu, pembiayaan penyakit kanker oleh BPJS tahun 2014 mencapai RP 2 triliun (894 ribu kasus) dan tahun 2015 mencapai Rp 1,3 triliun (724 ribu kasus). Atas dasar itu banyak pihak mengkhawatirkan bahwa PTM dapat menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan Program Jaminan Kesehatan Nasional.

    Terlebih lagi, prevalensi yang tinggi pada perokok di kalangan remaja menurunkan kualitas generasi penerus bangsa sehingga menjadi sebuah ancaman bagi keberhasilan pencapaian bonus demografi Indonesia. Penurunan kualitas dan produktivitas generasi penerus bangsa akibat mengonsumsi rokok akan menghambat pembangunan. Para pemimpin dunia telah menyapakati sebuah target pembangunan baru yang disebut dengan Sustainable Development Goals.

    Tujuan pembangunan ini lebih komprehensif tidak hanya berfokus pada penyakit menular utama serta kesehatan ibu dan anak, tetapi juga PTM. Penanggulangan PTM dan pengendalian konsumsi rokok (aksesi FCTC) menjadi salah satu upaya untuk mencapai tujuan pembangunan tersebut. Masuknya isu pengendalian tembakau dan penanggulangan PTM ke dalam indikator pencapaian SDGs seharusnya menjadikan program tersebut secara otomatis menjadi prioritas pembangunan di tingkat nasional.

    Dengan disepakatinya pengendalian rokok sebagai upaya pencapaian pembangunan berkelanjutan, WHO mengumumkan bahwa tema World No Tobacco Day 2017 (Hari Tanpa Tembakau Se-Dunia tahun 2017) adalah Tobacco : a Threat to Development. Sejalan dengan upaya di tingkat global tersebut, Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI) akan menyelenggarakan The 4th Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) 2017. Konferensi nasional pengendalian tembakau ini mengangkat isu mengenai pentingnya integrasi program pemcapaian SDGs dengan upaya pengendalian tembakau di Indonesia.